Dalam hitungan hari, Ramadan akan berlalu. Tidak ada yang bisa memastikan apakah kita akan bertemu lagi dengannya tahun depan. Namun, yang bisa kita lakukan adalah mengisi hari-hari terakhir ini dengan sebaik mungkin dan berpisah darinya dengan penuh penghormatan.
Berada di penghujung bulan Ramadan adalah sebuah anugerah yang
patut disyukuri. Ini menjadi momen yang tepat untuk merefleksikan amalan yang
telah kita lakukan selama bulan suci ini.
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu terbaik untuk
meningkatkan amal ibadah dengan lebih sungguh-sungguh. Sebab, di dalamnya
terdapat malam yang sangat mulia dan berkah, ia lebih baik daripada seribu
bulan yaitu Lailatul Qadar. Malam istimewa ini menjadi momen yang paling
dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia.
Kepastian serta keutamaan malam ini tertuang dalam firman Allah SWT,
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar.
Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Malam kemuliaan itu lebih baik
daripada seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1-3)
Menariknya, dalam ayat ini, kata Lailatul Qadar disebut tiga
kali secara berurutan. Hal ini menegaskan keagungan dan kemuliaannya, sehingga
maknanya lebih mendalam dan meresap ke dalam hati kita.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah saw
bersabda:"Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh malam
terakhir bulan Ramadan." (HR. Bukhari & Muslim).
Pada malam Lailatul Qadar tersebut, Allah SWT mengabulkan
doa-doa hamba-Nya dan mengampuni dosa-dosa mereka, sebagaimana sabda Rasulullah
SAW: "Barang siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan penuh
keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang
telah lalu." (HR. Bukhari)
Kapan
Lailatul Qadar Terjadi?
Para ulama memiliki berbagai pendapat mengenai waktu terjadinya
Lailatul Qadar. Mayoritas sepakat bahwa malam mulia ini terjadi pada sepuluh
hari terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil yaitu malam ke-21, 23,
25, 27, atau 29.
Namun, kapan tepatnya? Itu tetap menjadi misteri. Banyak ulama
dan mufasir berpendapat bahwa ketidakjelasan ini adalah bagian dari hikmah
Allah SWT. Hal tersebut dirahasiakan waktunya agar umat Islam berusaha
mencarinya dan mendapatkan pahala yang besar.
Rasulullah SAW juga tidak pernah menyebutkan waktu atau tanggal
pastinya, hanya memberi petunjuk bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir dan
lebih mungkin terjadi pada malam-malam ganjil.
Syekh Ali Jumah, ulama besar dari Mesir mengatakan bahwa
Lailatul Qadar tidak dapat diketahui secara pasti karena kebijaksanaan Allah
SWT. Menurutnya, Lailatul Qadar dirahasiakan oleh Allah, sebagaimana Dia
menyembunyikan waktu mustajab di hari Jumat dan sejumlah waktu afdhal lainnya.
Para ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang penentuan waktu malam
mulia itu. Mereka telah banyak menyampaikan tanda-tanda Lailatul Qadar, seperti
Ibnu Rajab al Hambali dalam kitabnya Lathaiful Maarif, begitu juga dengan ulama
kontemporer seperti Duktur Umar Hasyim, ulama hadits dari Al-Azhar Mesir yang
menjelaskan tanda-tanda Lailatul Qadar dan sejumlah ulama lainnya.
Namun, perbedaan pendapat tentang waktu pastinya mengajarkan
kita untuk tidak bergantung pada tanda-tanda, melainkan berusaha mencari malam
tersebut dengan sungguh-sungguh.
Para ulama telah menegaskan bahwa Lailatul Qadar dirahasiakan
oleh Allah, sebagaimana Dia menyembunyikan waktu mustajab di hari Jumat dan
waktu lainnya.
Fokus
Amalan; Sepuluh Malam Tanpa Spekulasi
Bayangkan ada 10 kotak, dan salah satunya berisi hadiah
istimewa, tetapi kita tidak tahu kotak mana yang memilikinya. Apa yang harus
kita lakukan? Tentu kita akan membuka semua kotak satu per satu agar tidak
melewatkan hadiahnya.
Begitu pula dengan Lailatul Qadar. Karena waktu pastinya tidak
diketahui, cara terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan menghidupkan seluruh
sepuluh malam terakhir Ramadan. Jangan menunggu malam ganjil tertentu atau
berspekulasi kapan tepatnya malam itu terjadi.
Manfaatkan malam-malam ini dengan memperbanyak shalat malam,
membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, bershalawat, tasbih, istighfar, serta
melakukan i’tikaf. Jika tidak bisa beri’tikaf di masjid, kita tetap bisa
beribadah di rumah dengan penuh kekhusyukan. Yang terpenting bukanlah
tempatnya, melainkan keikhlasan dan kualitas ibadah kita.
Sayyidah Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW:
"Wahai Rasulullah, jika aku menemui Lailatul Qadar, doa apa yang sebaiknya
aku panjatkan?" Rasulullah menjawab: "Bacalah: Ya Allah, Engkau Maha
Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku." (HR. Tirmidzi).
Rasulullah SAW senantiasa meningkatkan ibadahnya pada 10 malam
terakhir Ramadhan dengan lebih bersungguh-sungguh. Dari Aisyah RA, beliau
berkata: “Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW
mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan
keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi bukti bahwa sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan memiliki keutamaan dibanding hari-hari lainnya dalam hal peningkatan
ketaatan dan ibadah, termasuk salat, zikir, dan membaca Al-Qur'an.
Sebagai penutup, mengutip nasehat mufti Mesir Nazir Mohammed Ayyad, bahwa
Lailatul Qadar bisa terjadi pada salah satu malam di sepuluh hari terakhir
Ramadan. Maka Jangan lewatkan kesempatan ini. Bersungguh-sungguhlah dalam
shalat, doa, istighfar, dan qiyamullail.
Sebelum Ramadan berlalu, mari kita manfaatkan momen ini
sebaik-baiknya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan
Lailatul Qadar. Amin. []
Muhammad
Nasril, Lc. MA (ASN Kemenag Aceh Besar & Mahasiswa S3 Hukum Islam UIN
Jakarta - Awardee BIB Kemenag-LPDP)
0 Komentar